Laman

Senin, 09 April 2012

proses pembentukan muka bumi gunung berapi


A. Proses Pembentukan Permukaan Bumi
Adanya berbagai macam bentuk muka bumi itu antara lain disebabkan oleh tekanan dari dalam bumi. Pengaruh dari dalam bumi berupa suatu tenaga yang sangat besar sehingga dapat membentuk permukaan bumi beranekaragam. Tenaga yang berasal dari dalam bumi itu disebut tenaga endogen.  
Apakah tenaga endogen itu?
Tenaga endogen adalah kekuatan yang bersumber dari  dalam bumi. Tenaga ini dapat membentuk permukaan bumi, misalnya membentuk gunung berapi, perbukitan, dan pegunungan. Akibat tekanan dari dalam bumi atau tenaga endogen dapat mengakibatkan terjadinya gempa bumi.
 Permukaan bumi antara lain   rendah, tinggi, datar, miring, curam, landai dan sebaginya. Tinggi rendah permukaan bumi (bentuk muka bumi) disebut relief.  Oleh karenanya ada wilayah yang berrelief kasar dan halus. Wilayah berrelief kasar berarti bergunung-gunung, sedangkan berrelief halus berarti relatif rata. Rata bisa bebarti dataran rendah, bisa berarti dataran tinggi.
Para pakar kebumian berpendapat bahwa pada awalnya bumi berupa benda angkasa yang menyala. Selanjutnya secara pelan-pelan bola bumi  menjadi dingin. Bagian luar kulit bumi  mulai dingin kemudian membentuk lapisan keras. Lapisan keras kulit bumi itulah yang kemudian disebut dengan kerak bumi.
Bagaimana dengan lapisan di dalamnya? Lapisan di dalamnya atau bawahnya berupa lapisan cair yang masih menyala atau pijar. Zat cair pijar itulah yang biasa disebut dengan magma.   Magma yang berada di bawah kerak bumi menimbulkan tekanan kuat ke bagian kerak bumi. Bagian kerak bumi yang rapuh tidak tahan menerima tekanan, kerak bumi kemudian terangkat atau menggelembung keluar. Pengangkatan terjadi semula  dalam bentuk pegunungan yang ada di dasar lautan. Pada dasar lautan Hindia, Lauatan Pasifik dan Lautan Atlantik seakan-akan ada pematang di tengah samudera. Oleh karenanya kemudian disebut dengan:
·         Pematang Tengah Samudera Hindia, 
·         Pematang Tengah Samudera Pasifik,
·         Pematang Tengah Samudera Atlantik.
Dorongan dari dalam bumi ini juga yang menyebabkan munculnya pegunungan di daratan, bukit, dan gunung-gunung berapi.

B. Diastropisme
Apakah diastropisme itu? Gejala pergerakan kerak bumi  disebut dengan  diastropisme.  Diastropisme terjadi karena ada tenaga endogen. Apakah akibat dari tenaga endogen? Akibat tenaga endogen adalah terjadinya pergeseran kerak bumi. Pergeseran kerak bumi menjadikan permukaan bumi berbentuk cembung seperti pegunungan, dan gunung-gunung berapi, serta berbentuk cekung seperti laut,  dan danau. Kerak bumi terdiri dari dua macam, yaitu:
1.    Kerak benua
2.    Kerak samudera
 Kerak benua, contohnya kerak benua Eropa dan Asia (disebut Eurasia), kerak benua Afrika, kerak benua Amerika Utara, kerak benua Amerika Selatan. Kerak samudera, contohnya kerak samudera Hindia, kerak samudera Pasifik, kerak samudera Atlantik. 

Kerak benua disebut juga sebagai lempeng benua, sedangkan kerak samudera disebut pula lempeng samudera.   Lempeng samudera tertekan oleh magma yang ada di bawahnya, sehingga ada bagian membubung (naik). Bagian tersebut dinamakan pematang tengah samudera. Tekanan terus menerus berakibat  lempeng samudera tertekan dan bergerak menuju ke lempeng benua. Rata-rata pergerakannya sekitar 10 cm/tahun. Akibatnya lempeng samudera bertumbukan dengan lempeng benua. Akibat tumbukan tersebut ada bagian-bagian yang terangkat menjadi pegunungan.

Wilayah-wilayah dunia yang merupakan pertemuan lempeng ditandai dengan banyaknya deretan pegunungan.  Perbukitan kapur adalah contoh permukan bumi yang terangkat. Pada mulanya perbukitan kapur berasal dari dasar laut. Oleh karena ada tekanan dari dalam bumi, maka dasar laut terangkat hingga di atas permukaan laut. Adanya proses erosi dasar laut yang terangkat  tersebut kemudian menjadi perbukitan.

C. Jenis Batuan
Hampir 70 % batuan yang ada di permukaan bumi merupakan batuan sedimen.  Salah satu  penghasil batuan adalah gunung bertapi. Batuan yang dihasilkan gunung berapi adalah batuan beku. Batuan beku berasal dari magma. Gunung berapi ada yang di daratan dan ada pula yang di lautan. Magma yang dalam proses keluar atau sudah keluar di muka bumi kemudian membeku. Magma yang membeku ini kemudian menjadi batuan beku. Batuan beku setelah berada di muka bumi selama beribu-ribu tahun kemudian dapat hancur terurai setelah terkena panas,  hujan, aktivitas tumbuhan dan hewan. Hancuran batuan kemudian terangkut oleh air, angin atau hewan ke lain tempat untuk diendapkan.
 Batuan yang kemudian diendapkan tersebut disebut batuan endapan atau batuan sedimen. Baik batuan sedimen maupun batuan beku tertentu dapat berubah bentuk dalam waktu yang sangat lama oleh karena adanya perubahan temperatur dan tekanan.     Batuan yang berubah bentuk disebut   batuan malihan atau batuan metamorf. Berikut ini uraiannya.
a. Batuan beku
              Batuan beku ada dua macam, yaitu batuan beku dalam, contohnya batu granit, dan batuan beku luar, contohnya batu andesit. Untuk mengetahui ketepatan jenis batuan, seringkali harus dibutuhkan uji laboratorium. Uji laboratorium antara lain dengan mengetahui kekerasannya, atau bentuknya dengan menggunakan mikroskop untuk dapat melihat bentuk kristal batuannya.
b. Batuan sedimen
Batuan  sedimen dapat dikelompokkan menjadi  batuan  sedimen klastik, sedimen kimiawi dan sedimen organik. Sedimen klastik berupa campuran hancuran batuan beku, contohnya breksi, konglomerat dan batu pasir. Sedimen kimiawi berupa endapan dari suatu pelarutan, contohnya batu kapur dan batu gips. Sedimen organik berupa endapan sisa-sisa hewan dan tumbuhan laut, contohnya batu gamping koral.
c. Batuan malihan
Batuan yang berubah bentuk dinamakan batuan malihan atau batuan metamorf.  Contoh batuan metamorf adalah batu kapur (kalsit) berubah menjadi marmer, atau batuan kuarsa menjadi kuarsit. Di daerah Tulungagung Jatim, banyak masyarakat menjadi pengrajin batu marmer.

D. Proses Pelapukan
Tenaga eksogen dapat merubah bentuk permukaan bumi. Muka bumi dapat berubah bentuk menjadi berlubang, berbukit, dan bentuk lainnya. Tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar bumi dan bersifat merusak. Apakah yang dirusak? Rusaknya permukaan bumi terjadi karena adanya tenaga angin, tenaga air, sinar matahari. Gunung berapi dan pegunungan yang dibentuk oleh tenaga endogen akhirnya dirusak oleh tenaga eksogen. Tenaga eksogen dapat mengakibatkan aneka bentuk muka bumi dan terutama aneka macam jenis tanah.
Macam-macam pelapukan, antara lain:
1.    Pelapukan fisik
Apabila siang hari sinar matahari mengenai batuan, maka apa yang akan terjadi? Batuan menjadi panas bukan? Apa yang terjadi bila benda menjadi panas? Benda akan membesar atau memuai bila terkena panas. Demikian batuan. Batuan akan memuai bila terkena panas. Akibatnya batuan relatif akan retak. Pada malam harinya batuan akan kembali dingin, kemudian menyusut. Demikian seterusnya berlangsung setiap hari, maka akan berakibat batuan cepat hancur,  atau menjadi lapuk. Itulah contoh pelapukan fisik.
2.    Pelapukan kimiawi
Oleh karena proses kimiawi, suatu batuan akan lapuk.  Misalnya batuan kapur yang terkena air. Batuan kapur atau gamping dengan rumus kimia CaCO3 bila bercampuir dengan air  hujan (H2O) yang mengandung CO2, maka akan larut menjadi Ca(HCO3)2. Itulah contoh pelapukan kimiawi.
Di perbukitan kapur, akibat pelapukan kimiawi dapat dilihat hasilnya, yang berupa goa.  
3.    Pelapukan organis atau biologis
Pelapukan yang disebabkan oleh mahluk hidup dinamakan pelapukan biologis atau pelapukan organis. Akar tumbuhan dapat menembus batuan hingga batuan menjadi retak dan lapuk. Semut, cacing, maupun tikus mampu merusak batuan hingga batuan menjadi lapuk. Demikian pula manusia.

E. Proses Erosi dan Penyebabnya
Batuan yang terkena sinar matahari secara terus menerus setiap siang hari, menjadi panas, dan di malam hari menjadi dingin, dan kadang-kadang terkena hujan. Lambat laun batuan dapat menjadi lapuk. Batuan yang lapuk kemudian akan terkikis. Batuan terkikis tersebut dipindahkan ke tempat lain dengan tenaga air, tenaga angin, dan gletser. Dengan demikian factor penyebab erosi adalah air, angin dan luncuran es. Berikut uraiannya.
1.    Erosi air
Batuan dapat hancur oleh tetesan air secara terus menerus. Air juga  dapat mengangkut hancuran batuan.   Demikian pula aliran air pada parit, maupun sungai dapat membawa batuan yang lapuk ke tempat lain.
2.    Erosi angin
Hembusan angin dapat menyebabkan erosi batuan. Proses pengikisan batuan oleh angin dinamakan deflasi.
3.    Erosi gletser
 Es yang meluncur di lereng pegunungan dapat mengakibatkan terjadinya erosi.  Es meluncur menuruni pegunungan karena es mengalami pencairan. Peluncuran es diikuti oleh tanah dan batuan di lereng pegunungan. Erosi yang disebabkan oleh luncuran es itulah yang dinamakan erosi gletser.

F.   SEDIMENTASI
Tanah yang ada di bantaran sungai merupakan hasil sedimentasi. Demikian pula tanah yang diendapkan di laut, di danau, dan lain-lain tempat. Nama sedimen tergantung dari pengangkut batuan dan lokasi pengendapan, contohnya:
1.    Sedimen Aluvial, adalah sedimen yang berasal dari tempat  lain, diangkut dengan aliran air dan diendapkan di suatu wilayah datar.
2.    Sedimen fluvial, endapan yang diangkut air dan berada di bantaran sungai.
3.    Sedimen marine, endapan  yang diangkut oleh arus air laut pada dasar laut.
4.    Sedimen lakustrin, endapan yang diangkut oleh air pada dasar danau.
5.    Sedimen eolin, endapan yang diangkut oleh angin.
6.    Sedimen moraine, endapan yang diangkut oleh luncuran es pada kaki pegunungan.

G. Proses Pembentukan Bumi dan  Dampaknya bagi Kehidupan
Dampak Positif
Wilayah-wilayah subur untuk pertanian antara lain ada di Sumatera, Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku. Mengapa? Karena di pulau-pulau tersebut banyak gunung berapinya. Gunung berapi  terbentuk karena adanya gaya endogen. Dampak positif tenaga endogen yang paling nyata adalah adanya abu vulkanis yang dihasilkan dari gunung-gunung berapi. Wilayah sekitar menjadi lahan subur untuk pertanian.

Demikian juga tenaga eksogen. Tenaga eksogen seperti panas matahari, sangat dibutuhkan seluruh mahluk hidup. Tanpa panas matahari mahluk hidup tidak bisa bertahan hidup. Tenaga eksogen seperti panas matahari dan hujan dan angin akan mempercepat pelapukan batuan vulkanis  membentuk tanah subur.

Dampak Negatif
Dampak negatif dari tenaga endogen  antara lain:
1.    Letusan Gunungapi   merupakan bencana bagi masyarakat sekitar, dapat menghancurkan dan membakar hutan yang ada di lereng gunung berapi, awan panasnya dapat menghanguskan mahluk hidup yang ada di sekitarnya.
2.    Adanya gempa bumi merupakan bencana alam menakutkan, dapat menghancurkan bangunan seperti perumahan, gedung, jembatan, bendungan, dsb. Bahkan bila diikuti dengan tsunami akan lebih menakutkan lagi.
Dampak negatif tenaga eksogen antara lain:
1.    Angin sangat kencang atau badai dapat merusak rumah dan bangunan
2.    Hujan sangat deras dapat berakibat banjir.
3.    Hujan sangat deras mengakibatkan tanah longsor.
4.    Panas matahari yang berlebihan dapat menimbulkan kebakaran hutan.

H. Bencana Alam 
Bencana alam yang diakibatkan oleh proses pembentukan permukaan bumi ada bermacam-macam, antara lain letusan gunung berapi dan gempa bumi.
 Letusan Gunung Berapi
Di permukaan bumi  kita ada banyak g8nung berapi. Di Indonesia tercatat ada ratusan gunung berapi. Meskipun demikian sebaranya tidak merata. Sebagian besar ada di Sumatera, Jawa, NusaTenggara, Sulawesi, dan Kepulauan Maluku. Gunung berapi meletus setelah adanya tekanan tinggi dari dalam bumi, sehingga magma keluar ke permukaan bumi. Gejala keluarnya magma ke permukaan bumi disebut dengan vulkanisme. Bagian-bagian kulit bumi atau kerak bumi yang rapuh menjadi tempat keluarnya magma. Magma yang keluar di lempeng  benua menimbulkan gunung-gunung berapi. 
Magma keluar antara lain melalui pipa kepundan pada puncak gunung berapi yang disebut sebagai lubang  kepundan.  Pada bagian puncak gunung berapi  biasanya tertutupi oleh lumpur panas berupa kawah.  Magma yang keluar ke permukaan bumi melalui lubang kepundan disebut dengan erupsi. Magma yang keluar ke  permukaan bumi biasa disebut dengan lava. Lava berbeda dengan lahar. Lahar merupakan lumpur panas yang  mengalir keluar dari kawah. Lumpur panas yang  mengalir dari puncak gunung  berapi bercampur dengan air hujan berakibat suhu lahar agak dingin, disebut sebagai lahar dingin.   
Di Indonesia contohnya deretan gunung-gunung berapi yang ada di sepanjang Pulau Sumatera, Jawa,  Bali, Nusa Tenggara,  hingga Kepulauan Maluku.  
Gunung berapi dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu:
1.    Gunungapi strato
2.    Gunungapi perisai
3.    Gunungapi maar
Gunungapi strato atau gunungapi berlapis biasanya berbentuk kerucut. Lapisannya selang-seling terdiri lapisan  endapan berupa lava cair, lava kental, pasir, dan debu.  Kebanyakan gunungapi bertipe strato.
Gunungapi perisai berbentuk seperti perisai. Gunungapi perisai terbentuk landai karena lava yang keluar sangat cair sehingga selalu mengalir menjauhi lubang kepundan.  Contohnya Gunungapi Manoa Loa di Hawaii. 
Gunungapi maar, atau gunungberapi berbentuk corong. Terbentuk karena ledakan sangat kuat hingga terbentuk lubang kepundan sangat besar. Contohnya G. Paricutin di  Meksiko dan  G. Rinjani di Sumbawa.
Bagaimana gejala gunungapi yang tidak aktif?
Gunungapi yang mulai tidak aktif biasanya ditandai dengan keluarnya jenis gas. Jenis gas dan air panas yang keluar dari kompleks gunungapi misalnya:
1.    Mofet,  berupa gas asam arang (CO atau CO2). Gas ini sangat berbahaya.
2.    Solfatara,  berupa gas belerang.
3.    Fumarol,  berupa gas uap air.
4.    Geyser,  berupa air panas.


 Gempa bumi
         Bumi akan bergetar lebih kuat apabila kerak bumi yang merupakan batuan kulit bumi bergerak tiba-tiba. Getaran kuat itulah yang disebut dengan gempa bumi.
Gempa bumi dapat dibedakan berdasarkan faktor  penyebabnya, yaitu:
a.   Gempa bumi tektonik
    Gempa bumi tektonik terjadi oleh karena pergerseran  kulit bumi secara mendadak. Pergerakan kulit bumi yang sering terjadi di Indonesia ada di bagian barat Sumatera, selatan Pulau Jawa hingga Timor. Jalur wilayah ini merupakan jalur yang rawan dengan gempa bumi. Gempa bumi tektonik yang bersumber di dasar laut, biasanya diikuti dengan gelombang besar (tsunami). Semakin besar gempa bumi semakin besar pula kemungkinan timbul tsunami. Untuk itu bagi  Anda yang sedang di pantai atau tinggal di pantai, bila ada gempa bumi segeralah menghindar dari pantai, carilah tempat yang lebih tinggi. Tsunami yang pernah terjadi di Alor, Jawa Timur, dan NAD berlangsung kurang dari setengah jam setelah terjadinya gempa bumi. Agar lebih jelas lihatlah Gambar  Jalur Gempa Bumi di Indonesia.
b.  Gempa vulkanik
Apabila magma tersumbat oleh batuan beku dalam, pada salurannya, maka terjadilah getaran kuat di seputar gunung berapi. Getaran itulah yang disebut gempa vulkanik. Jadi gempa vulkanis terjadi karena aktivitas gunung berapi yang akan mengeluarkan magma tersumbat.  Meskipun demikian gempa vulkanik hanya di daerah sekitar gunung berapi, radiusnya tidak terlalu jauh.
c.   Gempa runtuhan  
    Tanah longsor,  tebing runtuh,   goa runtuh,  sumur pertambangan runtuh,  dan runtuhan lainnya juga dapat mengakibatkan gempa bumi sangat lokal.
d.   Gempa akibat ulah manusia
Akibat ulah manusia, misalnya peledakan bom, dapat menimbulkan gempa bumi. Bom besar dapat membuat getaran yang amat kuat. Tahukan Anda apa akibat gempa bumi?  Gempa bumi dapat berakibat kerusakan pada bangunan-bangunan buatan manusia. Gempa bumi ringan hanya menimbulkan kepanikan orang, tetapi gempa bumi yang kuat dapat merobohkan rumah, gedung, jembatan dan bahkan bendungan. Seorang ahli geologi, Charles F. Richter, pada tahun 1935  membuat skala gempa, sampai sekarang menjadi patokan banyak orang untuk mengetahui seberapa besar bahaya gempa.
Apabila diuraikan maka skala gempa Richter yang telah dimodifikasi oleh Mercalli seperti berikut:
Skala < 2  : gempa lemah,  sering manusia tidak bisa merasakan
Skala 3,5 –4,2: dirasakan sedikit orang
Skala 4,9 – 5,4 dirasakan banyak orang
Skala 5,5 – 6,1 : kerusakan ringan pada bangunan
Skala 6,2 – 6,9 : kerusakan agak besar pada bangunan
Skala  7,0 – 7,3 :  kerusakan serius, rel bengkok, jalan pecah
 Skala > 7,4      gempa kuat dan dapat berakibat fatal.
Pada  gambar tampak bahwa wilayah sepanjang Sumatera bagian barat yang membujur ke selatan dari Aceh hingga Lampung adalah wilayah  gempa bumi. Wilayah  jalur gempa bumi yang lain  adalah di bagian selatan Jawa, Bali Nusa Tenggara, bahkan sampai wilayah Papua, Kepulauan Maluku dan sebagian Sulawesi. 
 
LATIHAN
  1. Gambarkan penampang melintang subduksi  kerak bumi dengan kerak samudera!
  2. Jelaskan dan gambarkan macam-macam tipe bentuk gunung berapi!
  3. Jelaskan proses tenaga endogen  yang dapat membentuk permukaan bumi, misalnya membentuk gunung berapi dan pegunungan!
  4. Jelaskan dan gambarkan lapisan-lapisan   kerak bumi yang ada di Indonesia!
  5. Jelaskan macam-macam  erosi! 
  6. Jelaskan macam-macam  sedimentasi!
  7. Apakah perbedaan   lava  dengan lahar?
  8. Jelaskan macam-macam gempa bumi!
  9. Jelaskan jalur gempa tektonik di Indonesia!
  10. Bagaimana proses terjadinya tsunami yang ditimbulkan oleh  gempa bumi tektonik? 


RANGKUMAN
  • Tenaga endogen adalah kekuatan yang bersumber dari  dalam bumi. Tenaga ini dapat membentuk permukaan bumi, misalnya membentuk gunung berapi, perbukitan, dan pegunungan.
·         Lapisan keras kulit bumi itulah yang kemudian disebut dengan kerak bumi.
  • Gejala pergerakan kerak bumi  disebut dengan  diastropisme.  Diastropisme terjadi karena ada tenaga endogen.
·         Magma yang keluar ke  permukaan bumi biasa disebut dengan lava. Lava berbeda dengan lahar. Lahar merupakan lumpur panas yang  mengalir keluar dari kawah. Lumpur panas yang  mengalir dari puncak gunung  berapi bercampur dengan air hujan berakibat suhu lahar agak dingin, disebut sebagai lahar dingin.  
  • Gempa bumi tektonik yang bersumber di dasar laut, biasanya diikuti dengan gelombang besar (tsunami). Semakin besar gempa bumi semakin besar pula kemungkinan timbul tsunami.
 DAFTAR PUSTAKA

 Cuchlaine A.A. King, MA, Ph.D. (1963) An Introduction to Oceanography, New York:  Mc Graw Hill Co.
Johnson C. Fairchild (1964) ; Principles Of Geography, NewYork : Hall, Rinehart and  Winsley Inc
Katili. Geologi Umum
Moch Munir, (1996). Geologi dan Mineralogi Tanah, Jakarta : Pustaka Jaya
Nursid Sumaatmaja, (1988), Studi Geografi, Bandung : Penerbit Alumni
Peter Haggett, (1972), Geography: A Modern Synthetic, New York: Harper & Row Publishers.
Strahler (1987), Modern Physical Geography, New York : John Willey & Sons
Sverdrup, (1964) The Oceans, Tokyo : Charles E. Tuttle Co.

sumber :
staff.uny.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar