Laman

Jumat, 27 April 2012

Merenungi Matahari sebagai makhluk Allah

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN
Melanjutkan tulisan saya berjudul Tidak ada yang diciptakan Allah sia-sia, saya mencoba membuat sebuah contoh untuk memperjelas maksudnya.
Mengambil Matahari sebagai contoh tampaknya menarik karena saat ini aktivitasnya semakin meningkat menjelang puncaknya (diperkirakan terjadi di pertengahan tahun depan). Banyak hikmah yang bisa gali dengan merenungi keberadaan Matahari (termasuk ledakan energi dan massa yang dihasilkannya) yang populer kita kenal dengan istilah badai Matahari.

Sebelumnya kita review inti tulisan saya yang lalu. Tidak ada yang diciptakan Allah sia-sia. Oleh sebab itu, manusia yang mau merenungkan ciptaan Allah pasti akan memperoleh banyak manfaat.  Syaikh as-Sa’di mengemukakan bahwa ketika kita merenung tentang sebuah makhluk (apa saja ciptaan Allah SWT) kita akan memperoleh berbagai hikmah. Hikmah-hikmah ini beliau rangkum dalam dalam 4 point:

Sekarang kita ke Matahari.

1. Segi penciptaan

Dengan ilmu pengetahuan terutama astronomi, umumnya kita saat ini meyakini bahwa Matahari terbentuk sekitar 5 milyar tahun lalu dari awan raksasa gas dan debu antar bintang yang memadat akibat gravitasinya. Tarikan gravitasi yang semakin kuat mengakibatkan tekanan di pusat terus bertambah seiring meningkatnya temperatur yang pada akhirnya memungkinkan terjadinya reaksi nuklir yang mengakibatkan pelepasan energi. Energi yang dihasilkan dari reaksi nuklir tadi menimbulkan tekanan gas yang akhirnya mengimbangi tekanan akibat gravitasi sehingga kita kondisi Matahari seperti yang kita lihat saat ini. Dengan astronomi pula kita bahkan bisa memperkirakan bagaimana evolusi Matahari selanjutnya.
Proses terbentuknya Matahari yang luar biasa harus kita yakini tidak terjadi dengan sendirinya secara kebetulan melainkan karena diciptakan oleh Allah SWT. Merenungi penciptaan ini, menurut Syaikh as-Sa’di, akan mengantar kita untuk mampu menyadari kesempurnaan kodrat Allah, ilmu-Nya, kehidupan-Nya, dan kemandirian-Nya.

Matahari dan sistem tata suryanya diyakini terbentuk dari awan raksasa gas dan debu. Sumber: sciencephoto.com

2. Segi kesempurnaan

Dengan ilmu pengetahuan pula kita mengetahui bahwa sepanjang sejarah kehidupan Matahari melibatkan proses-proses fisis dan kimiawi yang rumit namun mematuhi aturan-aturan tertentu secara tepat (kita kenal dengan hukum fisika dan kimia). Contohnya, agar Matahari seperti yang kita lihat saat ini, diperlukan terjadinya keseimbangan antara tekanan gravitasi yang mengarah ke pusat dan tekanan gas yang mengarah ke luar. Baik tekanan gravitasi maupun tekanan gas tadi sama-sama melibatkan proses fisis dan kimiawi yang patuh terhadap hukum-hukum tertentu.
Seluruh proses yang terjadi pada Matahari menunjukkan ketepatan, kecanggihan, dan kerapian ciptaan Allah. Merenungi hal ini, menurut Syaikh as-Sa’di, akan membantu kita menyadari kesempurnaan hikmah Allah, kebaikan penciptaan-Nya, dan keluasan Ilmu-Nya.

Matahari adalah sebuah sistem besar yang tersusun atas bagian-bagian yang berfungsi bersama secara kompleks dan sempurna. Sumber: nasa.gov

3. Segi manfaat

Selama ini kita memanfaatkan sinar Matahari (sebagai hasil reaksi nuklir di pusatnya) setiap hari. Sinar inilah yang menghadirkan siang, menghangatkan badan, mengeringkan pakaian kita, dan lain-lain. Sinar Matahari pula yang memungkinkan terjadinya proses fotosintesis yang sangat diperlukan oleh sebagian besar tanaman yang dikonsumsi hewan dan manusia. Dengan tambahan ilmu pengetahuan niscaya kita akan mengetahui nikmat yang lebih banyak lagi dari keberadaan Matahari ini.
Berbagai hal yang kita nikmati dari keberadaan Matahari menunjukkan betapa bermanfaatnya Matahari tersebut. Merenungi hal ini, menurut Syaikh as-Sa’di, akan membantu kita untuk menyadari adanya rahmat Allah, perhatian-Nya kepada kita, dan keluasan kebaikan-Nya.

Sinar Matahari dapat dijadikan sumber energi listrik dengan panel surya. Sumber: examiner.com

4. Segi kekhususan

Dengan berkembangnya teknologi dan sains saat ini kita mengetahui bahwa Matahari memiliki karakter unik. Aktivitas Matahari ternyata mengalami peningkatan dan penurunan. Kita akhirnya mengenal adanya siklus Matahari sekitar 11 tahun di mana dalam 11 tahun tersebut Matahari mengalami masa puncak aktivitas dan masa minimum aktivitasnya. Kita mengenal istilah badai Matahari yang semakin sering terjadi di sekitar puncak aktivitas tersebut. Ketika berada di sekitar puncak aktivitasnya, manusia perlu lebih berhati-hati terhadap efek yang ditimbulkan badai Matahari ini terhadap teknologinya khususnya yang berada di luar angkasa dan astronot yang melakukan aktivitas di luar wahana.
Aktivitas Matahari termasuk badai yang ditimbulkannya adalah kekhususan yang dimilikinya. Jika badai Matahari yang terjadi ternyata menimbulkan kerusakan hebat maka kita harus sadar bahwa itu terjadi atas kehendak Allah. Merenungi ini, menurut Syaikh as-Sa’di, akan membantu kita untuk menyadari bahwa hanya Allah yang disembah, yang dicintai, yang dipuji, pemiliki keagungan, kemuliaan, dan sifat-sifat agung yang mana tidak sepatutnya ada cinta dan takut kecuali kepada-Nya. Doa murni tidak diberikan secara tulus kecuali kepada-Nya bukan kepada makhluk yang dipelihara yang memerlukan Allah dalam seluruh urusannya.

Badai Matahari dapat mengganggu bahkan merusak teknologi di antariksa dan permukaan Bumi serta mengancam keselamatan astronot yang melakukan aktivitas di luar wahana. Sumber: dailymail.co.uk

Penutup

Mengenal Allah (ma’rifatullah) bisa dilakukan diantaranya melalui makhluk ciptaan-Nya. Kita baru saja merenungi salah satu makhluk Allah yakni Matahari. Semakin banyak makhluk yang kita renungi dan semakin dalam perenungan kita tentu saja akan lebih baik karena seluruh makhluk tersebut istimewa. Empat point (penciptaan, kesempurnaan, manfaat, dan kekhususan) yang kita gunakan di atas bisa menjadi alat bantu yang baik.
Sayangnya, dewasa ini kita semakin sulit melakukan perenungan ini apalagi secara rutin. Kesibukan sehari-hari di kantor maupun di lingkungan yang lain ditambah dengan berbagai godaan yang terasa semakin banyak dan berat seringkali membuat kita lalai. Waktu luang yang kita miliki lebih sering kita gunakan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak begitu bermanfaat bagi jiwa dan iman kita. Lebih parah lagi jika sampai merenungkan hal-hal yang negatif. Mudah-mudahan Allah berkenan membimbing kita agar mampu menyediakan waktu yang lebih banyak untuk merenungi ciptaan-Nya.
Wallahu a’lam bishshawab.
Sumber : http://rachmanabdul.wordpress.com/2012/03/24/merenungi-matahari-sebagai-makhluk-allah/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar