Laman

Kamis, 30 Agustus 2012

Mengapa Manusia Membutuhkan Agama ?



 
Pertanyaan ini bagi kita umumnya mungkin hampir tidak pernah terpikirkan karena kita memang hidup di lingkungan yang beragama. Pada umumnya kita beragama secara keturunan dan otomatis kita mengikuti agama orang tua kita. Selanjutnya kita kemudian mendapat pendidikan yang memperkuat keberagamaan kita dan setelah dewasa terkadang kita mencari kebenaran dari agama yang kita anut sejak kecil tersebut.
Kita harus bersyukur bahwa kita lahir dari keluarga yang beragama Islam dan ini merupakan nikmat besar yang harus disyukuri. Kita tidak bisa membayangkan apa jadinya kita seandainya lahir dari keluarga yang tidak beragama. Bisa jadi setelah dewasa akan berusaha mencari kebenaran dalam agama, atau boleh jadi juga menganggap agama sebagai candu sehingga tidak perlu beragama, tidak butuh akan Tuhan. Naudzubillah min dzalik.
Istilah agama merupakan terjemahan dari Ad-Din (dalam bahasa Arab). Ad-Din dalam Al Quran disebutkan sebanyak 92 kali. Secara bahasa, dîn diartikan sebagai “balasan” yaitu di dalam  Al Quran yang menyebutkan kata dîn dalam surat Al-Fatihah ayat 4, “Maliki yaumiddin – “(Dialah) Pemilik (raja) hari pembalasan. Begitu juga pada sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, ad-dînu nashihah (Agama adalah ketaatan).Juga dalam Al-Baqarah ayat 256 “Laa ikraaha fiddin” (“tidak ada paksaan dalam agama …“).  
Secara istilah, din diartikan sebagai sekumpulan keyakinan, kepercayaan, hukum, dan norma yang diyakini dapat mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan manusia. Kebahagian dan keselamatan inilah yang sering menjadi cita-cita yang ingin dicapai tiap umat manusia di dunia. Siapa sih yang tak mau bahagia? Tentu sedikit sekali orang yang tak menginginkan hal tersebut. Dan kebanyakan orang sangat berharap dengan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Melalui sejumlah kajian maka para pemikir dan ulama mencoba menjawab pertanyaan di atas dan jawaban atas pertanyaan tersebut adalah :
  1. Manusia secara naluri dan fitrahnya memang sangat membutuhkan agama.
Manusia pada dasarnya membutuhkan agama karena hal ini yang membedakan manusia dengan mahluk lain seperti hewan. Dalam beberapa hal, ada kesamaan antara manusia dengan hewan, yaitu sama-sama sebagai mahluk Allah SWT, sama-sama mempunyai keinginan-keinginan biologis dan sama-sama mempunyai perasaan takut, sedih, dan gembira dan lain-lain. Manusia merupakan mahluk yang unik dan istimewa. Secara fisik manusia lebih lemah dibandingkan dengan hewan tetapi manusia mempunyai jiwa dan akal yang dapat membedakan baik dan buruk, benar dan salah dan lain sebagainya.
Al-Qur’an Surat Al-Ar’af menerangkan kepada kita bahwa sesungguhnya di alam ruh manusia sudah berjanji dan menyaksikan bahwa Allah SWT adalah sang Maha Pencipta.
Juga Al-Quran Surat Al-Baqarah dari ayat 1 s/d ayat 20 menceritakan golongan-golongan manusia. Para mufasirin menfasirkan bahwa ayat 1 – 5 menerangkan orang-orang yang beriman, ayat 6 – 7  menerangkan orang-orang yang kafir, dan ayat 8 – 20 menerangkan keadaan orang yang munafik. Dari 20 ayat yang diturunkan pada awal surat ini ternyata hanya 2 ayat saja yang menerangkan mengenai orang-orang kafir. Hal ini  yang ditafsirkan bahwa kebanyakan manusia sebenarnya beriman namun yang paling banyak jumlahnya adalah golongan orang-orang atau kaum munafiqin yang senantiasa berada dan ragu di antara keimanan dan kemunakran mereka.
Adapun dari segi kehidupannya maka manusia terbagi ke dalam tiga golongan yaitu golongan (a) Manusia yang mengabdikan hidupnya hanya untuk kehidupan dunia sebagaimana difirmankan QS Al-Anam ayat 29 dan Al-Jatsiyah ayat 24. (b) Manusia yang tidak mempunyai arah / tujuan hidup yang jelas sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Baqarah ayat 14 (c) Manusia yang menjadikan kehidupan dunia sebagai ladang bagi kehidupan di akhirat kelak, hal ini dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 dan Al-An’am ayat 32. 
  1. Manusia tidak mempunyai jawaban yang pasti terhadap pertanyaan-pertanyaan tentang alam semesta.
Pada saat Nabi Adam diturunkan ke bumi maka timbul kebingungan dalam dirinya tentang bagaimana menghadapi kehidupan di bumi, maka Allah SWT memberi tuntunan melalui wahyu dan isyarat-isyarat yang diturunkan kepada beliau. Bahkan sebelum Nabi Adam diciptakan-Nya para malaikat berdialog dengan Allah SWT tentang mahluk yang akan diciptakan Allah untuk menjadi khalifah di bumi (Al-Baqarah ayat 30-34). Pertanyaan yang disampaikan malaikat adalah bentuk keprihatinan kepada manusia yang cenderung menjadi mahluk pembangkang namun Allah berfirman bahwa Allah lebih mengetahui daripada apa yang diketahui para malaikat. Dan selanjutnya Allah memberikan pelajaran mengenai nama-nama benda kepada nabi Adam sebagai pengetahuan dan menjadikan kedudukan atau derajat  Nabi Adam yang lebih tinggi daripada malaikat sehingga malaikat diperintahkan sujud kepada Nabi Adam.
  1. Manusia sangat membutuhkan pedoman untuk mengatur kehidupan di dunia dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan di akhirat.
Manusia sebagai mahluk individu sekaligus sebagai mahluk sosial sangat memerlukan aturan dalam seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari menyalurkan kebutuhan yang paling dasar sampai memenuhi kebutuhannnya yang primer, sekunder dan tersier. Semua aspek kehidupan ada aturannya apalagi untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Ilmuwan barat di antaranya Schumacher menyatakan bahwa materialisme sudah mati, manusia sekarang mencari spiritualisme sehingga menurut hemat kita pencarían dan kembalinya manusia terhadap agama merupakan jawaban yang tepat.
Tentu saja banyak alasan dan jawaban lain mengapa manusia membutuhkan agama. Namun dari uraian di atas diharapkan kesadaran beragama kemudian muncul dari pemahaman yang menyeluruh tentang fungsi agama / din sehingga pertanyaan berikutnya adalah mengapa kita membutuhkan dienul Islam? Uraian dan jawaban mengenai hal tersebut insya Allah akan dilanjutkan pada materi kultum berikutnya. Wallahu’alam bishshawab …

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar